Uang: Jalan Menuju Kebahagiaan?

  • Bagikan

Permasalahan kehidupan di dunia ini baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan diawali dari persoalan uang. Terlalu banyak uang, tidak menjamin seseorang merasakan bahagia dalam hidupnya, dan sebaliknya dengan uang seadanya namun diiringi dengan rasa bersyukur, ternyata mampu menciptakan kebahagiaan seseorang dalam kehidupan.

Fakta yang teramati, banyak pejabat yang mengawali karirnya dengan cemerlang tanpa disadari ternyata gara-gara uang mengantarkan mereka masuk ke penjara. Uang akan mampu mengatur segalanya menjadi nyata. Dalam dunia bisnis; uang sering berfungsi ganda, di satu sisi sebagai alat pembayaran, namun di sisi lain uang berfungsi sebagai alat untuk melakukan negosiasi.

Demikian juga dalam dunia politik, uang sering digunakan sebagai alat perjuangan politik praktis. Tidak mau ketinggalan pula pada sektor publik birokrasi pemerintah, uang sering digunakan sebagai alat untuk membeli jabatan guna memperoleh kekuasaan. Dalam dunia peradilanpun uang sering digunakan untuk membeli hukum. Seolah uang telah menjadi panglima dan juru selamat dari semua permasalahan kehidupan, uang memang bukan segalanya, tetapi tanpa uang segalanya bisa menjadi tak bermakna.

Paradoks tentang Uang

Uang dapat membeli sebuah rumah, tapi bukan tempat tinggal, uang dapat membeli sebuah tempat tidur tapi tidak tidur, uang dapat membeli sebuah jam, tapi bukan waktu, uang dapat membeli sebuah buku, tapi bukan pengetahuan. Uang dapat membeli sebuah posisi, tapi bukan kehormatan, uang dapat membelikan kamu obat, tapi bukan kesehatan, uang dapat membeli darah tapi bukan kehidupan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa uang bukanlah segalanya, dan uang sering mengakibatkan seseorang terjerumus pada nafsu kemurkaan yang berujung pada kesedihan dan penderitaan. Oleh karena itu, waspadalah terhadap persoalan uang, karena uang adalah barang langka yang akan diperebutkan oleh semua orang. Ada dengan cara- cara yang santun dan terpuji, namun ada juga yang mencarinya dengan cara-cara tidak terpuji, bahkan ada pula yang menghalalkan dengan segala cara.

Uang sering digunakan sebagai alat politik untuk meraih tahta kekuasaan, sehingga setelah ia meraih kekuasaan, yang ia pikirkan adalah bagaimana uang yang telah ia korbankan untuk meraih jabatan bisa secepatnya kembali
dan bila perlu persen keuntungan yang berlimpah sebagai upaya menumpuk kekayaan. Kalaulah fakta ini yang terjadi maka negeri ini selamanya akan mengalami kesulitan dan penderitaan. Karena para pemimpinnya telah gila kekuasaan dan gila uang, maka rakyatnyapun akan mabuk dengan uang.

Baca Juga:  Romo Ino Nahak: Berbicara tanpa Menulis Tidak Berarti Sama Sekali

Mengelola Kehidupan

Kita semua berhak untuk menikmati hidup yang telah diberikan Tuhan sebagai mahluk yang paling mulia di muka bumi ini. Sejatinya, kita semua berhak untuk bahagia, menikmati hidup, mengabdi sepenuh hati dan melayani manusia sepenuh jiwa. Mari kita sama-sama melakukan evaluasi dan introspeksi diri di sekitar kita, mengapa ada orang yang mampu meraih kebahagiaan dan ada orang yang tidak mampu meraih kebahagiaan. Karena itu mengelola kehidupan jauh lebih besar dan lebih penting dari pada mengelola karier.

Sehingga siapa saja yang memegang jabatan, harus dapat menjaga diri mengelola hidupnya dengan baik agar tidak masuk penjara dan menghindari diri dari melakukan tindakan yang tidak mulia. Mengutip pendapat Subarto Zaini dalam tulisannya yang berjudul Managing Your Life, mengemukakan ada tiga pertanyaan yang berkaitan dengan masa depan untuk meraih kebahagiaan.

Pertama, bagaimana meraih bahagia dalam hidup? Kedua bagaimana cara kita menata hubungan dengan pasangan hidup dan keluarga agar jalinan kasih satu sama lain dapat menjadi sumber kebahagiaan yang tidak terputus. Ketiga bagaimana kita dapat menjaga diri agar tidak terlibat kasus yang merugikan diri sendiri, masyarakat, bangsa, negara dan agama. Jika kita mampu menjawab dan menterjemahkan ketiga pertanyaan tersebut dalam wujud nyata kehidupan sehari-hari maka kita akan mampu meraih kebahagiaan yang sejati.

Karena itu kita haruslah memahami bahwa uang bukanlah alat motivasi yang ampuh untuk menjamin kebahagiaan hidup seseorang. Uang membuat kita lebih banyak terlena, merasa puas diri, dan untuk meraihnya sering kali menggunakan cara-cara yang kurang beradab, menghalalkan segala cara, dan cenderung membangkitkan sikap hidup yang hedonis.

Baca Juga:  "Senyum Stefania"

Kebahagiaan yang dihasilkan dari uang adalah kebahagiaan semu dan sesaat dan bahkan bisa menimbulkan kesesatan. Kepuasan dan kebahagiaan melihat orang lain yang kita bantu tumbuh dan berkembang jauh lebih besar ketimbang kepuasan yang diperoleh dari menumpuk harta kekayaan dalam wujud uang.

Demikian juga hubungan yang harmonis dengan pasangan hidup dan anak-anak merupakan kebahagiaan yang berkelanjutan. Kemesraan dalam keluarga adalah tempat dimana segala kepentingan dan cinta kasih lebur hanya untuk meraih kebahagiaan.

Sesuatu yang berjangka panjang biasanya lebih abadi dan bukan kebahagiaan sesaat. Memanfaatkan waktu, tenaga dan semua energi untuk mengejar karier dengan mengorbankan keluarga tidak akan memberikan kebahagiaan dalam hidup. Bahkan ada pepatah yang mengatakan “jangan korbankan kebersamaan bersama keluarga demi sebuah kesuksesan, karir dan uang”. Mari kita cermati sampai sejauh mana karier dan posisi jabatan mampu kita pertahankan?

Kita harus merenung dan mencermati bahwa setiap saat jabatan dan karier itu bisa lepas dan jatuh ketangan orang lain, mana yang akan anda pilih, kebahagiaan sesaat atau kebahagiaan sejati berjangka panjang? Untuk meraih kebahagiaan sejati, maka hiduplah bersahaja dan tidak berlebih-lebihan, jujur dan menjunjung tinggi integritas. Uang bukanlah dewa, maka janganlah pernah mendewakan uang sebagai sumber kebahagiaan.

Kebahagiaan datang bukan dari uang dan kekayaan, kebahagiaan datang karena kita melakukan hal-hal yang mulia dan terpuji, dan memberikan kehidupan yang lebih baik kepada banyak orang, baik itu di lingkungan keluarga maupun di wilayah yang lebih luas lagi.

Kebahagiaan juga datang karena kita tidak berada dalam penjara. Jika kita tak mau menjadi narapidana kita mesti mengelola hidup ini secara lebih serius, dengan menjunjung nilai-nilai moral dan menerapkannya dalam kehidupan keseharian demi kebaikan diri dan kesejahtraan bersama. Seperti yang telah tertanam dalam pancasila, pancasila bukanlah alat yang memperruntuhkan kesatuan bangsa melainkan, sebagai wujud nyata bangsa dalam kehidupannya ialah kehidupan manusia Indonesia.

Waktu adalah Uang

Baca Juga:  Korupsi: Paradigma Politik dan Budaya

Tetapkan prioritas pada waktu, dan selalu konsentrasi pada tugas-tugas yang bernilai tinggi. Kita semua mempunyai impian untuk dapat hidup bahagia dan kaya raya. Untuk menjadi kaya harus membangun suatu keinginan yang membara akan kekayaan dan keuangan yang mandiri. Berhentilah menadahkan tangan, apalagi meminta-minta jabatan.

James Gwee menyatakan, waktu adalah uang. Seperti orang dalam taksi yang terjebak macet selama 30 menit saja akan selalu kuatir dan selalu terbayang berbagai pikiran. Tentu kita marah dan kesal karena uang terus terbuang percuma, berharga sekali waktu pada saat itu. Maka dalam kehidupan sehari-hari kita pun harus sadar agar tidak kehilangan uang karena waktu yang terbuang percuma.

Kita harus menghargai waktu sebisa mungkin, dan ternyata kita semua secara umum masih hidup dalam kedaan terpenjara dengan rutinitas pekerjaan, sehingga tidak lagi terlihat seperti manusia, tetapi seperti robot yang di program untuk melakukan kegiatan yang sama. Semua orang mempunyai impian untuk dapat menjalani kehidupan terbaik, keluarga yang bahagia, karir yang cemerlang dan melesat cepat, serta peran di masyarakat yang penuh bermakna.

Untuk menuju Kebahagiaan seperti itu sering dihadapkan pada kendala 4 TA, yaitu: harta, tahta, kata dan cinta. Jika keempat hal tersebut mampu diraih dengan baik, dan di saat yang bersamaaan anda gunakan itu semua sebagai sumber manfaat untuk orang lain di sekitar kita; maka itulah yang merupakan wujud kehidupan yang bahagia dan mulia.

Namun kenyataan yang terjadi sering sebaliknya, banyak di antara kita yang tidak tahan menderita, ingin cepat kaya, dan setelah kaya, merekapun tidak tahan uji, berfoya-foya untuk kehidupan yang tidak bermakna yang berujung di “penjara”.

Oleh karena itu sebagai manusia yang selalu memperjuangkan kebahagiaan, kita hendaknya mampu memperkuat diri dengan motivasi kebahagiaan yang kuat. Yang mengantar kita pada kebahagiaan yang sebenarnya, bukan kebahagiaan semata. Sehingga kebahagiaan yang kita rasakan sungguh memanusiakan kita yang adalah manusia.

Oleh, Mario Gonzaga Afeanpah
Mahasiswa Universitas Widya Mandira Kupang

  • Bagikan