Peran Gereja Bagi Masyarakat Dimasa Pandemi Covid-19

  • Bagikan
Andro Bouk

Dewasa ini, memang tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Banyak kasus-kasus tercipta di berbagai penjuru, kasus kali ini lebih mencolok terhadap seluruh dunia dan dunia turut merasakan getaran hebat kasus Covid-19 yang sudah menjadi pandemi global. Kondisi negara kita, khususnya negara Indonesia saat ini, mengalami hambatan hebat karena wabah virus yang mencekam. Kendala masyarakat di berbagai aspek kehidupan yakni ekonomi, relasi sosial menjadi terbatas. Masalah ekonomi menjadi tolak-ukur masyarakat sangat menurun drastis serta harga barang dagangan makin melonjak drastis pula. Wabah virus corona makin menjadi persoalan bagi umat dikarenakan penyebaran penyakit pada masyarakat mencapai jumlah banyak yang terjangkit, bahkan di setiap daerah banyak yang meninggal. Masyarakat saat-saat ini menghadapi ketidakpastian, tentu hal ini menimbulkan dilema dalam kalangan masyarakat yang mengalami persoalan sosial-ekonomi dan krisis iman di dalam keluarga-keluarga kristiani. Dengan ini diperlukan adanya daya kreativitas untuk menumbuhkan iman dalam keluarga. Maka untuk memutuskan rantai penyebaran virus, maka pemerintah dan pemimpin Gereja melakukan proses social distancing dengan cara menghimbau warga Gereja melakukan ibadah-ibadah di rumah masing-masing.

Di sini tercermin dari berbagai latar belakang masyarakat yang saat ini dihimpit oleh ekonomi yang menurun drastis dimasa pandemi Covid-19. Terkait ekonomi yang semakin menurun drastis, di sini tercatat untuk membuka wawasan berpikir dan kreativitas masyarakat demi memajukan dan memacu kerja sama menunjang nilai ekonomi itu sendiri. Seperti yang kita ketahui sekarang ini, di kalangan masyarakat mengalami hambatan karena pandemi ini menyingkapkan betapa rentan dan saling berhubungan kita satu sama lain. Jika kita tidak saling mempedulikan satu sama lain, mulai dari yang paling lemah dengan masyarakat maka kita tidak dapat memulihkan dunia ekonomi dan relasi sosial. Pandemi virus corona menguakkan penyakit sosial yang lebih luas. Salah satunya adalah pandangan yang rancu pada masyarakat mengalami penurunan sosial-ekonomi. Suatu kendala yang sangat sulit meretas jalan keluar, untuk proses kehidupan kerja sama masyarakat serta upaya yang dibangun dalam keluarga. Ini menjadi penting bahwa pada zaman sekarang, zaman yang membutuhkan daya kreativitas untuk bekerja sendirian, dan juga bukan zamannya lagi untuk hidup sebagai suatu kelompok.

Pandemi menyingkapkan situasi buruk, yang di alami langsung oleh masyarakat dan kesenjangan makin lebar menguasai dunia. Dan virus, yang tidak membeda-bedakan orang ini, mengungkapkan secara sangat menyolok bahwa kesenjangan relasi hidup sosial-ekonomi kali ini memperburuk kehidupan masyarakat. Tentu masalah ini harus diselesaikan kalau orang terbuka terhadap sesama serta bersedia bekerja sama dengan semangat solidaritas. Dan di sini, Gereja menyikapi dengan suatu masalah yakni krisis akan iman saat ini. Yang di mana masyarakat luas mengalami kemunduran, dan usaha Gereja harus mencapai suatu tahap. yang datang untuk mempersatukan umat bukan datang menjadi suatu pemisahan. Gereja memulai dengan persatuan (persekutan berlandaskan Yesus Kristus), transformasi dan perdamaian demi kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga:  Opini : Pandemi Covid 19 VS Black Campaign

Berbicara tentang peran Gereja menggambarkan sikap yang penuh tanggung jawab dalam mempertahankan nilai keadilan dan keluhuran sebagai sebuah persekutuan. Persekutuan melibatkan antara sesama yang datang sebagai sumber identitas Gereja dalam perhimpunan sekelompok manusia. Peran Gereja memiliki paradigma yang berakar dari nilai-nilai luhur manusia yang harmonis, yang merata tanpa ada perbedaan dalam menjangkau semua elemen masyarakat. Hal ini merupakan unsur kepentingan Gereja untuk memberi suatu pemahaman pada umat kristiani yang memang saat ini, terhimpit dalam masalah besar yakni Covid-19. Untuk menampilkan sumber identitas Gereja maka usaha yang diberikan pada umat dengan situasi yang saat ini marak dan berkecamuk, harus diberi rantai sebagai satu penghubung melalui media seperti misa online, katekese online serta konten-konten lainnya yang berbaur rohani diperlihatkan sebagai acuan dasar iman umat agar menciptakan suatu kualitas keteguhan iman umat dimasa pandemi ini.

Berdasarkan ajaran Gereja, pengertian Gereja dikemukakan dengan sangat baik oleh Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) dalam buku yang berjudul Iman Katolik dapat memberikan informasi serta referensi untuk digunakan memperjelas kata Gereja bukanlah menjadi suatu batasan atau defenisi sehingga Gereja merupakan “jemaat Allah yang dikuduskan dalam Krisus”. Gereja merupakan wadah iman. Bekal dari sebuah persekutuan, membentuk diri umat dalam situasi apapun yang diperhadapkan pada saat ini. Pandemi ini memang memberikan suatu ruang yang sempit, sehingga bagi umat kristiani perlu memacu wawasan dengan memberi diri, serta eksistensi diri manusia “umat kristiani” menjadi suatu keutuhan dalam kehidupan Gereja.

Sikap Gereja dimasa pandemi ini menentukan aktivitas pelayanan terhadap umat kristiani dengan suatu harapan, demi memberdayakan kreativitas umat agar mandiri melaksanakan kegiatan sehari-hari dalam lingkup hidup ekonomi. Tentu aktivitas pelayanan menjadi kendala karena seolah tidak efektif dan umat sangat membutuhkan kehadiran pelayanan pastoral. Saat ini umat perlu memahami kondisi, situasi yang masih ganas dengan cara memupuk iman dalam keluarga serta pelayanan pewartaan melalui media-media membangun kerja sama dalam lingkup sosial ekonomi dan dapat memperkuat iman umat. Perlu meninjau dari kajian masalahnya bahwa dampak ini secara langsung dialami oleh masyarakat dalam hal ini keluarga-keluarga kristiani itu sendiri.

Baca Juga:  Fenomena Kendaraan Plat Merah Disalah Gunakan, Sudah Jadi Budaya

Tentu jelas bahwa tidak ada yang menginginkan situasi, kondisi seperti ini, yang di mana semua orang pada saat ini mengalami sendiri. Hal ini sangat membatasi aktivitas pelayanan secara langsung sehingga pelayanan dilakukan secara online karena semua ini disebabkan oleh wabah virus ini. Memahami situasi seperti ini, media online menjadi rujukan dengan memberikan himbauan pada umat, agar dapat membangun kerjasama, dalam lingkup sosial-ekonomi yang memungkinkan semua orang ikut melibatkan diri demi kebaikan bersama. Daan setiap keluarga kristiani hendaknya membangun kehidupan ekonomi dengan prinsip berdoa dan bekerja. Umat perlu menyadari bahwa ketersediaan lapangan kerja saat ini terbatas. Karena itu, Gereja selalu memberikan upaya kerja keras dengan caranya tersendiri terhadap umat dalam daya kreativitas menciptakan lapangan kerja mandiri dan juga dapat menumbuhkan kehidupan ekonomi maupun kehidupan iman.

Masa pandemi Covid-19 merupakan suatu unsur keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit khususnya pada manusia dewasa ini. Penyakit ini memiliki sistem penyebaran sebagai penyakit yang mematikan dikalangan masyarakat dan terjangkit dengan jumlah banyak serta angka kematian semakin meningkat. Wabah ini dapat terjadi secara terus menerus bahkan hitungan hari hingga tahun mencapai tahap skala besar angka kematian. Pandemi menjadi wabah yang tersebar keseluruh dunia dan wabah ini menjadi masalah besar warga dunia yang makin hari mempersempit kehidupan masyarakat.

Dampak sosial ekonomi pandemi Covid-19 yang dirasakan oleh masyarakat memberi suatu efek yang sangat menakutkan, mencemaskan dalam sebuah paranoia global saat ini. Efek pandemi ini menjadi ketakutan serta melenyapkan kecerdasan sosial yang selama ini terjalin dalam solidaritas. Dalam kepanikan terhadap Covid-19 dapat memborong ruang kerja semakin terisolasi demi keselamatan diri sendiri sehingga tempat-tempat kerja, tempat-tempat hiburan ditutup, sekolah-sekolah diliburkan serta sarana-sarana transportasi dikandangkan. Pandemi Covid-19 memang menyerang secara menyeluruh dan pergerakan makin tanpa batas baik itu terhadap manusia serta barang dan jasa. Begitupun Gereja mengalami kemandegan dan dampak ini juga dialami dan dihadapi oleh umat sendiri ialah karena kekurangan pelayanan pastoral sehingga kesadaran umat dalam memahami iman sendiri menjadi dangkal. Hal ini menjadi sasaran utama bagi umat karena berkurangnya bimbingan-bimbingan rohani terhadap umat.

Baca Juga:  Urgensitas Filsafat Pragmatisme dalam Memecah Polemik Tambang Lingko Luwuk dan Lengkololok

Maka dari itu, media menjadi program kerja yang di mana menjadi satu penangkal arus dimasa pandemi ini, dengan membuat iman umat harus makin mantap. Dengan ini umat membutuhkan kehadiran yang tak secara langsung namun masih tetap memberi kehidupan iman pada semua umat. Tentu dari inilah, penghayatan iman umat akan menjadi kuat. Di sini, daya agen pastoral selalu membantu kehidupan iman umat dengan melalui media online karena pandemi saat ini. Agen-agen pastoral memberi pelayanan dengan menumbuhkan kreativitas umat dalam kerja ditengah dampaknya masalah yang dihadapi seperti ini. Apalagi situasi saat pandemi seperti ini dapat membuat umat dan keluarga-keluarga kristiani tidak kuat dalam menghadapi kondisi sosial-ekonomi.

Sikap Gereja dan pemerintah menghadapi penyakit ini, dengan memberi upaya-upaya pencegahan terhadap penyebaran Covid-19 bahwa perlu adanya penegasan, penertiban secara maksimal terhadap masyarakat, dengan inti pesannya: Kurangi kontak langsung, physical distancing, cuci tangan, pakai masker, jaga kondisi dengan cukup istirahat, olahraga dan konsumsi makanan sehat, dan kreativitas ekonomi ditumbuhkan. Begitupun sekarang kembali pada kesadaran diri masing-masing untuk mematuhi protokol kesehatan yang dihimbau oleh Gereja dan pemerintah. Demi masyarakat Gereja dan pemerintah menjadi suatu kontribusi mencegah penyebaran virus dalam situasi yang semakin memburuk ini. Efek pandemi virus merubah iklim ketakutan, kecemasan sehingga masyarakat yang adalah umat kristiani gagal dalam hal ekonomi dan kemunduran iman sangat drastis menurun. Tentu saja kecerdasan sosial lenyap seketika waktu, yang dihimpit dalam ruang hidup tak menentu. Maka hal positif perlu disikapi bahwa media menjadi pengingat, yang di mana Gereja dan pemerintah mampu berdiri memberikan suasana kehidupan dalam keluarga yang lebih hangat. (*rey)

Penulis:

Oleh Andro Bouk

Mahasiswa Fakultas Filsafat

Univeristas Widya Mandira-Kupang

  • Bagikan