Pancasila Merajut Kebersamaan Dalam Perbedaan

  • Bagikan
Heri Noprianto Serang/Pecinta Budaya Sumba
Heri Noprianto Serang/Pecinta Budaya Sumba

NTT-News.com, Tambolaka-Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terdiri dari lebih dari 13.000 pulau besar dan kecil, dan bermacam – macam suku, agama, budaya , adat dan sebagainya yang kemudian menjadi satu bangsa  yaitu bangsa Indonesia di bawah naungan pancasila sebagai pilar ideologi Negara dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam buku Pancasila sebagai ideologi dan dasar Negara karya Ronto(2012) pancasila secara etimologis berasal dari bahasa sangsekerta, “panca” yang artinya lima dan “syla” yang artinya batu sendi. Disini Ronto ingin menjelaskan bahwa pancasila bukanlah hanya sekedar sebuah slogan kosong sebagai persyaratan berdirinya sebuah Negara tetapi lebih dalam dari itu pancasila adalah sebuah ideologi bangsa yang didalamnya terdapat begitu banyak perbedaan dan keberagaman.

Baca Juga:  Wakil Bupati SBD Lantik 11 Pejabat Eselon II, Ini nama dan Posisi Jabatan mereka

Hari ini seluruh bangsa Indonesia merayakan hari lahirnya pancasila, lahirnya sebuah ideologi pemersatu keberagamaan, Hari ini bangsa ini memperingati kecermelangan ide dan gagasan seorang Soekarno Bapak pendiri bangsa di tanggal 1 juni 1945 yang dengan teguh dan yakin mencantumkan Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara, untuk menyatukan seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai merauke, dari  pulau miangas sampai pulau rote yang kemudian disebut sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca Juga:  Petani SBD Keluhkan Kelangkaan Pupuk Bersubsidi

Kini ketika bangsa ini hampir saja merayakan hari ulang tahun kemerdekaanya yang ke 76, dihari lahirnya pancasila ini terbersit sebuah pertanyaan, masih relevankah pancasila sebagai sebuah dasar Negara? Jawabannya tentu saja Pancasila masih sangat dijunjung tinggi sebagai ideologi Negara. Hanya saja Diera teknologi dan social media yang makin membuming ini, berbagai ancaman untuk merusak persatuanpun semakin gencar.

jika dulu para pahlawan  berusaha mengusir para penjajah dari tanah air tercinta ini, dan mempersatukannya menjadi sebuah Negara kesatuan, kini  tugas kita adalah merawat persatuan keberagaman itu agar tidak terpecah oleh berbagai isu perpecahan dan intoleransi, dengan melupakan untuk memaksakan bahwa “agamaku adalah agama yang paling benar, budayaku adalah budaya yang paling baik”. Kenapa demikian? Karena  Bhineka tunggal ika sebagai semboyan negara merangkum perbedaan menjadi persatuan.

Baca Juga:  Rato Adat Wesel Gelar Ritual "Menolak" Covid-19

Dengan demikian marilah bergandengan tangan bersatu merajut kebersamaan membangun bangsa ini dengan melupakan ini demi kelompokku, ini untuk agamaku, ini untuk sukuku, tapi marilah bahu membahu membangun bangsa ini demi Indonesia kita tercinta. “SAYA PANCASILA, SAYA INDONESIA”. (Rian)

 

Waitabula, 1 Juni  2021

Penulis : HERI NOPRIANTO SERANG

 

  • Bagikan