Opini : Pesta Demokrasi Suatu Praktek Dagelan

  • Bagikan
Oleh: MARIANUS DUMAN

Anekdot Praktek Dagelan

Program Just For Laugh pernah mengunggah sebuah video dagelan ke youtube sebagai salah satu kontennya. Dalam video tersebut dipertontonkan sebuah tindakan dagelan make up wajah oleh seorang“pakar” tata rias yang sesungguhnya ia tidak paham tentang merias wajah.

Pada suatu keramaian, pelaku dagelan mengkampanyekan keahliannya. Dengan diksi sempurna ia memperdaya pendatang. Alhasil banyak yang percaya padanya dan memberi diri di make over. Pertunjukkan pun mulai dijalankan. Namun setelah satu dua menit berjalan, si peserta merasa tidak nyaman karena tidak ada lagi sentuhan tangan di wajahnya. Peserta terbangun dan berkaca. Betapa kaget dan marahnya ia ketika mendapati wajahnya yang semula cantik tapi kini hancur berantakan. Ia ditinggal sendirian dalam meratapi wajahnya itu. Ia baru sadar bahwa ini hanyalah permainan untuk memuluskan niat busuk si pelaku dagelan.

Realitas Politik Dagelan

Realitas politik dagelan sangat terlihat jelas di bangsa Indonesia ini. Pada setiap pesta demokrasi (Pilpres, Pilegdan Pilkada) pasti selalu ada kisah-kisah lucu dan bodoh di dalamnya. Ceritanya bermacam-macam jenisnya. Ada yang dahulu berseteru, kini justru bersekutu. Sebaliknya, yang dahulunya bersatu, kini justru beradu. Ada yang dulu berapi-api menjelaskan visi misi namun kini terdiam dalam jeruji besi. Ada serangan fajar hingga serangan malam. Ada keluarga pecah berantakan karena beda pilihan.

Akhirnya di antara pelaku dagelan ada yang kehilangan kewarasan. Telanjang dan tertawa sambil berjalan tidak tahu arah karena menyesal telah kalah. Bahka nada yang tidak saling cakapan hingga akhirat. Mayat pun tidak diantar ke liang lahat karena beda pilihan.Peristiwa-peristiwa ini sangat lucu untuk disimak.

Realitas ini akan terjadi pada setiap pesta demokrasi. Bahwa para pelaku dagelan akan selalu melakukan tindakan yang tidak mencerminkan pribadi yang berkualitas, berkapabilitas dan berwibawa. Mereka selalu menunjukkan sikap infantil yang seolah tak pernah sekolah. Layakkah pelaku dagelan mendapat tahta jika mereka hanya mempermainkan nurani rakyat?

Baca Juga:  Calon Aggota Dewan dan Harapan Masyarakat

Seduksi Politik Dagelan

Praktek seduksi adalah suatu strategi meyakinkan orang lain melalui “keindahan” palsu atau semu. Praktek ini adalah sebuah strategi penampakan luar atau strategy of appearance yang bertumpu pada kekuatan make up yang bukti atau kebenarannya kosong (empty signifier).

Seduksi politik adalah kecenderungan politik abad virtualitas yang bertumpu pada permainan mumi penampakan, artifisialitas, imagologi, dan mimikri (mimicry) sebagai cara untuk memuluskan nafsu dan hasrat busuk mendapat tahta dan jabatan.

Dalam politik dagelan, tindakan seduksi adalah sah. Segala macam kebohongan dipamerkan untuk memperdayai rakyat tanpa mempertimbangkan dampak buruknya. Malah menjadikan semua rakyat “sapi perahnya”.

Dalam sejarah pesta demokrasi di negara Indonesia praktek seduksi dagelan sudah sering terjadi. Begitu banyak pelaku dagelan yang mempraktekkan seduksi yang besar. Mereka akan menggunakan kekuatan media sosial dan lainnya untuk mengiklankan diri dan koleganyabahwa merekalah yang terbaik. Merekalah yang memiliki mimpi yang sempurna dan riil untuk membangun bangsa atau daerahnya.

Segala citra diri yang sempurna mereka sematkan padanya. Sebisa mungkin menyamakan dirinya dengan para pahlawan pembangunan atau lainnya.  Dengan segala kecerdasan kebohongan mereka memuliakan diri lebih berkualitas dari lainnya. Dalam kata perdaya-an mereka menyembunyikan kelemahan. Orasi visi misi menjadi pentas segala kebohongan dan pembodohan diungkap.

Para pelaku dagelan akan berbohong sebesar-besarnya agar masyarakat yakin padanya. Hal ini telahd iungkapkan Buller dan Burgon dalam teori desepsinya bahwa pembohong akan berbohong dengan cerdas agar kebohongannya efektif. Tindakan itu berupa (1). Falsification (pemalsuan), (2). Concealment (menyembunyikan kebenaran) dan (3). Equivocation (mengaburkan). Para pelaku dagelan sebisa mungkin memalsukan data dan fakta agar masyarakat percaya.

Bahayanya masyarakat tidak mengetahui intrik-intrik licik ini. Masyarakat mengikuti pesta demokrasi dengan hati yang suci. Namun ternyata prakteknya penuh akal bulus yang busuk. Hingga akhirnya masyarakat melarat tak dapat pembangunan seperti yang dijanjikan pelaku dagelan.

Kesangsian Berdaya dan Perdaya Dalam Politik Dagelan

Baca Juga:  Ketika Kinerja Lembaga Perwakilan, Keadilan dan Partai Politik Tidak Pasti

Berdaya dan perdaya adalah dua kata yang mirip tapi jauh berbeda maknanya. Kedua kata ini sangat familiar dalam pesta demokrasi. Sungguh banyak pelaku dagelan yang menggoreng kedua kata ini untuk mensukseskan tujuan busuknya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “berdaya” artinya mempunyai akal, cara dan sebagainya untuk mengatasi suatu (masalah). Jadi berdaya pada dasarnya adalah membantu orang-orang keluar dari keterpurukan atau masalah.

Sedangkan ”perdaya-an” adalah tipu daya atau tipu muslihat. Jadi perdaya-an adalah tindakan sadar yang dilakukan untuk memperalat orang lain guna mendapat keuntungan pribadi. Perdaya-an intinya membodohi orang lain untuk menggapai maksud dan tujuan.

Dari ulasan tentang makna dasar dari kedua kata di atas sangat jelas bahwa berdayalah yang maknanya sangat positif. Sementara perdaya itu buruk adanya. Lalu mana yang sesungguhnya diungkapkan para pelaku dagelan, berdaya atau perdaya? Yang mereka ucapkan adalah kata-kata berdaya namun bersamaan dengan itu mereka sedang melakukan perdaya-an (pembodohan).

Masyarakat sungguh tidak mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Keduanya hampir sama dan bahkan sangat indah terdengar. Pada titik inilah kesangsian masyarakat menjadi sangat besar dan tertipu.

Buruknya seluruh lapisan masyarakat menerjemahkan secara mentah apa yang pelaku dagelan ucapkan. Masyarakat terbius dengan diksi sempurna pelaku dagelan ketika menggambarka nkebohongannya dalam rencana pembangunan yang semu. Bahwapemberdayaan akan dilakukan secara nyata dan transparan.

Masyarakat bermimpi besar tentang janji-janji busuk ini hingga akhirnya tulus memilih dan sangat fanatik. Masyarakat mati dalam mimpinya yang semu karena terlalu percaya pada ucapan kebusukan hati pelaku dagelan. Bahkan masyarakat akan merelakan segalanya termasuk nyawa. Lucunya harga sebuah kehidupan hanya sebesar kebohongan dan kebodohan yang busuk. Inilah akibat dari sebuah kesangsian dalam politik dagelan.

Hilangnya Ke-suci-an Politik

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan ke-suci-an adalah bersih, bebas dari dosa dan murni. Sedangkan politik adalah pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan, segala urusan dan tindakan, cara bertindak dan ke-bijak-an. Jadi kesucian politik adalah segala pengetahuan, urusan, tindakan, cara bertindak dan kebijakan yang bersih, bebas dari dosa dan murni dalam ketatanegaraan atau kenegaraan dan segala urusannya. Pertanyaannya adalah apakah politik di negara kita masih suci?

Baca Juga:  Urgensitas Filsafat Pragmatisme dalam Memecah Polemik Tambang Lingko Luwuk dan Lengkololok

Dari seluruh realitas yang terjadi sangat jelas bahwa kesucian politik di negeri ini telah hilang. Rohnya yang murni, agung, mulya dan sakral telah lenyap. Politik di negara kita semakin terdegradasi akibat tindakan busuk para pelaku dagelan. Para dagelan Indonesia pun sudah tidak lagi mencitrakan kenegarawanannya. Oleh karena itu, yang terjadi dalam politik ialah pertarungan perebutan kekuasaan dengan segala cara, akal, kiat, bahkan tidak jarang akal busuk dan tipu daya tanpa peduli etika politik. Ujungnya, citra kekuasaan tidak lagi menjadi tanggungjawab yang memikul cita-cita luhur bangsa namun telah berubah menjadi panggung untuk mempertontonkan kemuliaan diri semata.

Politik semakin dinilai sebagai sosok yang kotor dan kekuasaan menjadi panggung yang menjijikkan. Terlihat dari gaya pelaku dagelan yang menjadikan politik sebagai ladang sumber nafkah untuk menghidupi dirinya. Max Weber telah mengatakan bahwa ada orang yang telah menghidupi dirinya dari politik, bukan menghidupi politik dengan sumbangsih tenaga, pikiran, dan kearifan dirinya (bentuk kesucian politik).

Politik menjadi alat memperkaya diri sendiri. Politik tidak diorientasikan untuk memperjuangkan nilai-nilai luhur. Padahal, menurut Weber, politikus yang sejati atau suci adalah yang memiliki kearifan untuk menata negara dan menciptakan kebaikan bersama (bonum publicum). Politikus yang bermartabat dan berintegritas menjadikan politik sebagai medan perjuangan yang di dalamnya ditransformasikan nilai-nilai kebaikan untuk merealisasikan cita-cita bersama karena di situ pula letak etika dan tujuan luhur politik.

Lalu kapan kita akan melakukan pesta demokrasi dengan kesuciannya yang sesungguhnya? Mungkin jika seluruh pelaku dagelan ini mati dan tidak menabur benihnya dalam masyarakat. Quo vadis kesucian pesta demokrasi (Pilpres, Pileg dan Pilkada) kita? (**)

  • Bagikan