Opini : Kampus Harusnya Demokratis dan Mahasiswa Harus Kritis

  • Bagikan
Yasintus Bria Ketua BEM Unimor

Kampus yang baik adalah kampus yang demokratis. Kampus yang menampung setiap aspirasi mahasiswa, siap menyerap seruan moral dari mahasiswa/inya. Jika hal hal kecil seperti itu tidak di pikirkan oleh kampus maka, jangan salahkan jika kampus disebut sebagai lembaga yang akan mencetuskan kedikatoran pemimpin di masa depan.

Kampus wadah bagi mahasiswa membina karakter, mental dan mencari jati diri. Kampus bukan tembok yang mengurung mahasiswa tanpa memiliki ruang gerak satu langkahpun. Pertanyaan sesuai realita hari ini, apakah? kampus kampus mulai menerapakan kembali sistem NKK/BKK? dengan tidak demokratisnya kampus, dengan tidak peka dengan aspirasi mahasiswa kampus telah menunjukan kediktatoranya.

Pada massa itu banyak senat mahasiswa yang di bubarkan jika kritis, karna penerapan sistem normalisasi kehidupan kampus (NKK) dan Badan Keamanan kampus (BKK) Apakah sistem itu mau diterapkan kembali tengah situasi bangsa seperti ini.

Ayoo!!!kawan kawan mahasiswa jangan berikan ruang sedikitpun kepada birokrat kampus untuk menerapkan kembali sistem itu. Maukah daya kekritisanMu di bungkam? Maukah hak demokrasiMu di bungkam? Maukah kriminalisasi dan diskiriminasi dimana mana? Hari ini kampus telah menunjukan tidak demokratisnya bahwa tidak peka dengan aspirasi mahasiswa yang di wakili oleh Organisasi Mahasiswa (Ormawa). Padahal peran ormawa dalam satu lembaga universitas sangatlah penting demi menunjang peningkatan sumber daya mahasiswa/i sendiri. Kampus yang baik itu adalah bagaimana ia mampu menyerap setiap aspirasi dan seruan moral dari mahasiswanya, bukan sikap apatisme, egoisme yang ia perlihatkan.

Mahasiswapun tidak boleh ikut terlena dengan segala kebijakan yang di keluarkan oleh kampus, mahasiswa tidak harus ikut membeo pada setiap kebijakan kampus, mahasiswa di tuntut untuk peka dan kritis, mahasiswa di bebani tanggung jawab yang besar, mahasiswa harus siap siaga mengkritisi setiap kebijakan. Kenapa mahasiswa harus kritis? Karna mahasiswa memikul tanggung jawab yang besar, mahasiswa adalag agen of change, agen of knowledge. Mahasiswa kritis untuk menjaga moral bangsa, mahasiswa harus kritis untuk menjaga karakter bangsa.

Kritis adalah sikap yang dimiliki oleh anak kecil sekalipun. adik-adik kita yang masih dibawah umur selalu menanyakan hal-hal baru yang ditemui dan tidak dimengerti. itulah sikap dasar dari kritis, rasa ingin tau yang kuat dan tidak menerima begitu saja suatu hal yang mungkin telah dianggap lumrah. nampaknya seperti pola pikir seorang filsuf.

Baca Juga:  Jefri Riwu Kore Ikon Pemutus Rantai Anomali Tradisi Politik Pemerintah

namun, banyak dari kita yang mengartikan sikap kritis itu sebagi sikap yang anarkis. seperti yang kita lihat di layar kaca. para pejabat saling beradu argumen dan lempar kata saring serang guna mempertahankan prinsipnya. namun sebenarnya sikap kritis itu bukan seperti itu. sikap kritis dapat diartikan sebagai suatu hal yang anarki apabila tidak memiliki solusi.

pada dasarnya, sikap kritis dimunculkan karena ada suatu penyimpangan. dan layaknya sebuah masalah, pastilah ada solusi. kritis itu solutif, jadi jangan hanya melemparkan argumen tanpa solusi yang konkret. sikap kritis bukan untuk menjatuhkan lawan, tapi untuk membangun kekompakan dan kebersamaan.

seperti yang kita ketahui, Mahasiswa merupakan fase tertinggi dari rantai makanan dunia pendidikan. maksud saya, sebagai peserta didik, Mahasiswa merupakan tahapan tertinggi dibanding jenjang pendidikan lainnya. sebagai individu yang berada pada puncak rantai makanan, Mahasiswa memiliki kebebasan dalam menentukan sikap, kebebasan berpendapat, kebebasan berkarya dan sebagai individu yang merdeka dari segala tekanan.

Mahasiswa mampu melakukan dan menentukan apa saja. oleh karena itu, pendidikan mental melalui berbagai kegiatan rohani dan organisasi harus diambil oleh mahasiswa guna menjaga dirinya dari segala hal yang dapat merusak. karena mahasiswa merupakan aset yang tak ternilai harganya untuk bangsa dan negara.

Mahasiswa memiliki beban yang tidak mudah. Mengingat mahasiswa harus kreatif dan menciptakan, bukan sebagai generasi penerus dan peniru. penerus di sini adalah sebagai generasi yang meneruskan kebobrokan mental para pendahulunya. mahasiswa sebagai agen perubahan yang memikul tanggung jawab besar di pundaknya.

Mahasiswa Sebagai Insan Akademis selayaknya mahasiswa pada umumnya, beban ini tentulah menjadi hal utama dalam bangku kuliah. mengingat niat utama dari seseorang untuk kuliah, menimba ilmu sebanyakbanyaknya merupakan suatu keharusan. namun tahukah anda ? beban ini hanya sebagian kecil dari peran dan fungsi mahasiswa sesungguhnya.

Baca Juga:  Jeritan Jelata vs Kutukan Pemimpin

Mahasiswa Menjaga MORAL BANGSA kelihatannya agak dilebih-lebihkan. namun, beban yang satu ini adalah beban sesungguhnya dari seorang mahasiswa. mahasiswa bertanggung jawab penuh pada moral bangsa.sebagai agen perubahan yang sesungguhnya, mahasiswa tidak dibenarkan untuk duduk diam bermalasmalasan di rumah atau di tempat kos. tapi mahasiswa diwajibkan untuk menyumbangkan sesuatu pada negara. mahasiswa harus berkontribusi, menciptakan dan menemukan hal baru. dan hal yang paling utama adalah, mahasiswa harus kritis. berani mengeluarkan pendapat di muka umum adalah contoh paling sederhana dalam sikap kritis.

Kritis adalah sikap yang dimiliki oleh anak kecil sekalipun. adik-adik kita yang masih dibawah umur selalu menanyakan hal-hal baru yang ditemui dan tidak dimengerti. itulah sikap dasar dari kritis, rasa ingin tau yang kuat dan tidak menerima begitu saja suatu hal yang mungkin telah dianggap lumrah. nampaknya seperti pola pikir seorang filsuf.

namun, banyak dari kita yang mengartikan sikap kritis itu sebagi sikap yang anarkis. seperti yang kita lihat di layar kaca. para pejabat saling beradu argumen dan lempar kata saring serang guna mempertahankan prinsipnya. namun sebenarnya sikap kritis itu bukan seperti itu.

pada dasarnya, sikap kritis dimunculkan karena ada suatu penyimpangan. dan layaknya sebuah masalah, pastilah ada solusi. kritis itu solutif, jadi jangan hanya melemparkan argumen tanpa solusi yang konkret. sikap kritis bukan untuk menjatuhkan lawan, tapi untuk membangun kekompakan dan kebersamaan.

Kritis itu objektif. Sebagai Mahasiswa, cakrawala pengetahuan harus terbuka pada perubahan dan peka serta menilai sesuatu tidak asal-asalan, harus ada fakta konkret yang mendukung argumen dan berdasarkan pandangan objektif, bukan pandangan subjektif yang hanya menguntungkan sebagian kelompok. sikap kritis itu riil atau nyata, bukan hal fiktif yang sengaja diangkat dan dijadikan kontroversi, tidak mengada-ngada dan berorientasi pada solusi, bukan menciptakan masalah yang baru.

Mahasiswa dituntut untuk provokatif proaktif. Mengasah sikap kritis dapat membantu mahasiswa untuk ambil bagian dari jajak pendapat dan perubahan di sekitarnya. sikap kritis bukan bakat alami.

Baca Juga:  Fenomena Kendaraan Plat Merah Disalah Gunakan, Sudah Jadi Budaya

Sikap kritis lahir dari kepekaan kita pada perubahan dan bisikan hati nurani kita untuk tidak duduk diam dan hanya mengamati. mahasiswa harus ambil bagian terhadap segala bentuk upaya untuk perubahan.

Banyak hal yang dapat menumbuhkan sikap kritis dari seseorang dengan memasuki dan mengikuti organisasi contohnya, mahasiswa tentunya dapat mengisi waktu luang mereka untuk halhal yang berguna dan untuk tetap kontributif dan berkarya.

Dengan berkumpul dengan orang-orang yang sepaham dan duduk bersama membicarakan suatu masalah akan melatih kita untuk berargumen.

Untuk menjadi kritis tentunya Mahasiswa harus bergabung dengan lingkungan yang kritis pula. dengan membaca dan menulis tentang apapun yang mengganggu pikiran kita dan tentang segala bentuk penyimpangan yang ada dapat menumbuhkan dan menanamkan sikap kritis di hati kita.

Jadi, jangan bangga dengan prestasi akademik yang selangit namun tak berkontribusi pada perubahan. ingat kembali 3 pedoman mahasiswa, pendidikan, penelitian dan pengabdian. peka lah terhadap lingkungan sekitar, TANAMKAN sikap kritis dan jadilah Mahasiswa bermental baja dan siap mengawali perubahan ke arah yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Realita hari ini berkontaminasi dengan definisi kekritisan mahasiswa. Mahasiswa hari ini cenderung mengejar nilai dan IPK tanpa menyadari kelak akan jadi apa pribadinya.

Lucu dan anehnya mahasiswa terombang ambing oleh IPK yang nantinya hanyalah formalitas, ia terlena dengan janji manis sang dosen, ia bungkam dengan konflik sosial didalam kampus yang penting ia mendapatkan IPK yang bagus.

Munafik…?? Hari ini nasionalisme mahasiswa di pertanyakan? Mahasiswa hari ini seakan tuli dan buta dalam melihat peristiwa keji yang terjadi.

Situasi pandemic yang bukanya hanya menyerang kesehatan, tapi juga menyerang stabilitas ekonomi malah di anggap hal yang biasa biasa saja.

Loh? Akal sehatMu dimana ? hal terakhir yang ingin saya sampaikan adalah MAHASISWA KATAKAN “LAWAN” KETIKA KAMPUS ITU DIKTATOR MAHASISWA HARUS KATAKAN LAWAN PADA KEBIJAKAN YANG TIDAK MANUSIAWI. (**)

  • Bagikan