Memulihkan Sektor Pariwisata saat Pandemic Covid-19

  • Bagikan
Danau Weekuri di Sumba Barat Daya NTT

Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor penyumbang bagi pendapatan daerah. Namun semenjak adanya Covid-19, anggaran pendapatan dari sektor pariwisata turun tajam. Pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan dan salah satunya PSBB (Batasan sosial besar), upaya ini di lakukan oleh pemerintah agar mengurangi penyebaran covid-19 di berbagai daerah di Indonesia. namun upaya ini malah menyebabkan ekonomi indonesia runtuh karena pendapatan yang seharusnya di sumbangkan devisa negara dilumpuhkan karena kurangnya wisatawan di industri pariwisata.

Menurut Raden Raden Kurleni Ukar devisa dari sektor pariwisata menyusut hampir 80 persen akibat pandemic korona. Tercatat, penyusutan devisa pariwisata menjadi US$3,54 miliar atau sekitar Rp51,2 triliun (kurs Rp14.462 per dolar AS) dari tahun sebelumnya yang mencapai US$16,9 miliar. Devisa yang diproyeksikan turun hampir 80 persen menjadi hanya US$3,54 miliar. turunnya devisa pariwisata ini disebabkan oleh anjloknya kunjungan wisatawan mancanegara dari 11,6 juta pada 2019 menjadi hanya 4,05 juta di tahun lalu.

Baca Juga:  Korupsi: Paradigma Politik dan Budaya

Kunjungan wisatawan terjun bebas ke angka 4,05 juta atau turun hampir 75 persen, imbuhnya. Jumlah tenaga kerja sektor pariwisata juga turun hampir satu juta orang atau 6,67 persen menjadi sekitar 13 juta. Tak hanya itu, jam kerja mereka pun turun signifikan sehingga pendapatan hariannya ikut tergerus. Dapat dikatakan tenaga kerja pariwisata menjadi setengah menganggur pada 2020.

Baca Juga:  Membangun Keharmonisan Antar Umat Beragama Sebagai Langkah Maju Dalam Menghidupi Paham Nasionalisme Indonesia

Melihat permasalahan tersebut penulis ingin mengeluarkan gagasan agar kebijakan PSBB ini harus dilonggarkan dengan membuka berbagai parwisata dan ijinan masuk wisatawan luar nergeri di Indonesia. akan tetapi perlu adanya protokol yang harus di terapkan.

Misalnya wisatawan luar negeri yang datang ke Indonesia harus melalakukan berbagai tes Kesehatan atau ada surat keterangan Kesehatan covid-19. Di pariwisata juga harus membatasi jumlah pengunjung sebanyak 50% dari kapasitas yang ada. di pintu masuk pariwitasa perlu ada protocol Kesehatan yang ketat misalnya penyediakan cek suhu, alat cuci tangan dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Hilda Manafe Minta Pemprov NTT Perhatikan Kepentingan Rakyat dalam Pembangunan Pariwisata

Dengan menerapkan berbagai protocol Kesehatan yang ketat di pariwisata dan bandara tentunya di harapkan agar perlu adanya kesadaran dari masyarakat untuk mematuhi berbagai protocol Kesehatan sehingga penyebaran covid-19 dan perekonomian Indonesia khususnya disektor pariwisata dapat dipulihkan .

Oleh : Hendra Budianto Barus (Mahasiswa UST)

  • Bagikan