Koordinator MPLS SMK Deo Gloriam Wanno Muttu; Kami salah, kami mohon maaf

  • Bagikan
Koordinator MPLS SMK Deo Gloriam Wanno Muttu

NTT-News.com, Webar – Koordinator panitia Masa Perkenalan Lingkungan Sekolah(MPLS), SMK Deo Gloriam Wanno Muttu, Kecamatan Wewewa Barat,  Seprianus Janpiter Goko mengaku salah atas peristiwa yang sudah menimpah siswa peserta MPLS pada saat melakukan PBB. Menurutnya, video yang viral benar direkam oleh seorang anggota panitia berinisial ASP(16). Video yang viral pada Rabu(14/07/2021) itu, baru diketahui dirinya di sore hari. Pasalnya, ASP merekam video tanpa pengetahuan dirinya.

“saya siswa kelas sebelas sebagai koordinator dalam melaksankan MPLS memohon maaf atas video yang viral dan sudah meresahkan kita bersama. Saya dan teman-teman panitia MPLS, juga sudah memohon maaf di peserta MPLS dan kedua orangtuanya,”ucap dirinya ketika ditemui pada Kamis (15/07/2021).

Seprianus juga mengaku bahwa di dalam video itu, dirinya juga menggertak peserta MPLS yang sedang disuruh menyanyi. Tetapi, dirinya  tidak mengeluarkan kata kotor ketika membimbing. Menurutnya, yang menggunakan kata kotor itu rekannya berinisial ASP. Sementara DPK dan MTD hanya membentak peserta MPLS.

“Benar, saya juga ada di dalam video itu, tetapi saya tidak mengeluarkan kata kotor, hanya bernada keras terhadap peserta MPLS itu. Karena peserta itu tidak mengindahkan permintaan kami, makanya saya bilang akan bawa kembali di kelas satu SMP. Tetapi bukan berarti saya berhak kembalikan peserta itu di SMP, itu hanya bahasa main gila saya saja,”ujarnya.

Peserta MPLS yang sedang viral itu, kata Seprianus, sedang diberi  hukuman karena terlambat mengikuti MPLS. Selain terlambat, kata Seprianus tidak memakai masker. Sehingga dirinya dkk, memberi sangsi berupa menyanyikan lagu garuda pancasila dan sikap hormat. Tanpa sadar, di luar pengetahuan dirinya, seorang rekannya mengeluarkan kata kotor.

Baca Juga:  Ratusan Guru Kontrak Seruduk Kantor Dinas P dan K SBD

Seprianus berjanji akan bersedia menerima sangsi apapun yang akan diberikan oleh pihak sekolah. Menurutnya, saat ini pihak sekolah telah menskorsing dirinya dkk, selama satu bulan. Serta dibuatkan surat pernyataan yang ditanda tangani ke empat oknum panitia tersebut. Dirinya juga meminta agar tidak lagi memviralkan video tersebut. Demi menghindari persoalan baru lagi.

“Kami sudah diberi sangsi. Kami siap terima tanpa berkomentar. Untuk itu, kami juga memohon kepada semua pihak agar tidak viralkan lagi video itu. Masalah sudah selesai. Jadi mohon jangan diperpanjangkan lagi. Sekali lagi kami benar-benar memohon maaf,”ucap Seprianus dengan nada penyesalan.

Terpisah, seorang siswa kelas sebelas yang juga panitia MPLS SMK Deo Gloriam Wanno Muttu, ASP(16) mengakui telah merekam video dengan menggunakan ponselnya sendiri.  Serta mengeluarkan kata kotor seperti yang terekam dalam video viral itu. Dirinya menyebut bahwa tanpa sengaja merekam proses PBB yang dilakukan pada hari selasa(12/07/2021). Menurutnya, peserta MPLS yang sedang disuruh menyanyikan lagu garuda pancasila bukan orang lain. Melainkan keluarga dekatnya.

“Benar, saya yang mengeluarkan kata tidak baik itu. Saya tidak sadar mengucap kata itu. Sebenarnya saya sendiri juga yang telah merekam proses PBB siang itu. Saya tidak bermaksud merusak nama baik sekolah. Karena kebiasaan main gila di luar sekolah, akhirnya terbawa dilingkungan sekolah. Saya dan Fredi yang peserta MPLS itu bukan orang lain. Kami keluarga. Saya juga sudah minta maaf sama adik Fredi, kepada semua keluarga, kepala sekolah dan guru-guru,”tutur ASP dengan rasa penyesalan.

Baca Juga:  Dinas PK NTT Gelar Rakor Persiapan UNBK

Setelah merekam proses PBB, ASP langsung memosting distory Whatshap. Namun sayangnya, ASP membagikan video itu ketika dimintai oleh salah satu kontak whatshapnya. ASP tidak menduga kalau video yang di edarkan kepada kontak whatshap itu menjadi viral pada hari rabu(14/07/2021) siang kemarin.

ASP merasa bersalah ketika melihat video yang sedang membentak peserta MPLS dengan menggunakan kata kotor mulai disebarkan luaskan oleh pengguna akun facebook, tik tok, WA, dan youtube. Dengan demikian, ASP bersedia menerima sangsi apa pun yang hendak diputuskan oleh pihak sekolah. ASP menyadari bahwa perbuatan yang dilakukan bersama kawannya telah mencoreng nama baik sekolah, guru, dan kepala sekolah. Sehingga dirinya juga meminta maaf kepada semua masyarakat.

“Saya merasa bersalah telah merekam proses itu. Saya tidak pernah berpikir akan berdampak begini. Saya hanya mengirim disalah satu kontak WA karena dia minta. Tetapi saya tidak menduga di hari rabu video itu menjadi viral. Saya merekam hanya mau jadikan kenangan pribadi saja. Bukan saya yang viralkan,”tutur ASP.

Sementara itu, siswa SMP peserta MPLS, Frederikus Umbu Awang yang didampingi ayahnya, Bernadus Bora Tanggu, dan ibu Emiliana Bili, mengaku biasa-biasa saja ketika mengetahui dirinya viral diberbagai media sosial. Menurutnya, didikan yang telah terjadi di MPLS merupakan bagian dari proses. Frederikus membenarkan bahwa ada oknum panitia yang mengeluarkan kata tidak sopan. Saat itu, kata Fredirikus tidak membalasnya dengan kata yang tidak pantas. Dirinya hanya mengikuti segala proses MPLS selama tiga hari.

Baca Juga:  Rapat Perdana SMA Generasi Penerus Ede, Alfonsus; DPRD SBD siap dukung

“Saya ikut saja, saya tidak melawan. Biasa-biasa saja. Banyak yang mendapat banyak hukuman. Saat itu saya datang terlambat dan tidak memakai masker. Makanya saya disuruh menyanyi. Saat itu juga hari selasa, saya punya teman-teman SMP ada praktek PBB. Karena terlambat, makanya saya masih diberi sangsi oleh kakak-kakak panitia,”jelas Frederikus yang didampingi orangtuanya.

Frederikus juga membenarkan bahwa panitia MPLS yang ada dalam video itu merupakan keluarganya. Menurutnya, sehari-hari sering saling mengejek dengan bahasa pasar. Sehingga bagi Frederikus tidak ada persoalan ketika kata itu terucap. Frederikus juga mengaku tidak mengetahui bahwa dirinya viral dimedia sosial. Bahkan Frederikus hanya tertawa setelah mengetahui video yang diviralkan diketahui dirinya.

“Panitia itu saya punya keluarga. Kata-kata yang tidak baik itu sudah biasa kami gunakan ketika saling mengejek diluar sekolah. Saya hanya tertawa saja ketika saya tahu kalau video itu sudah viral. Tidak ada persoalan lagi. Kami sudah damai. Sudah selesai. Saya juga tidak mau kalau kakak-kakak saya diberi sangsi. Tergantung kepala sekolah saja,”tutup Frederikus. (Rian)

  • Bagikan