Konsep Kepemimpinan: Sebuah Tinjauan Dari Pemikiran Coelho, Hitler dan Gandhi

0
339
Ilustrasi

NTT-News.com, Kefamenanu– Secara esensi pemimpin dan penguasa merupakan dua hal yang berbeda. Jika pemimpin bertindak untuk mengatur, menggerakkan, mengarahkan dan menuntun bawahannya dengan penuh kebijaksanaan untuk mencapai cita-cita serta tujuan bersama, penguasa justru melaksanakan wewenangnya dengan tangan besi, penuh dengan intimidasi dan tekanan kepada pengikutnya.

Dalam kehidupan setiap hari, selalu dijumpai praktek kepemimpinan dengan kedua watak seperti yang digambarkan di atas.

Kepemimpinan akan menjadi baik dan efektif, jika elemen-elemen bawahan turut serta memberikan sumbangsih dan berpartisipasi aktif dalam kepemimpinan yang sedang berlangsung dengan cara turut serta mengambil kebijakan dan membuat keputusan demi tujuan bersama. Misalnya dalam keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat maupun wilayah yang lebih luas seperti sebuah negara.

Kepemimpinan dalam sebuh Negara turut mempengaruhi kebijakan dan arah pembangunan Negara tersebut. Oleh karena itu, pemimpin yang telah diberikan mandat oleh rakyat untuk menjalankan fungsi kepemimpinan dalam sebuah Negara harus memiliki karakter kepemimpinan yang berintegritas, patriotis, bijaksana serta memiliki kepedulian terhadap orang lain di sekitarnya.

Seorang pemimpin dituntut agar menemukan masalah yang ada dimasyarakat dan mampu memberikan solusi terhadap setiap persoalan yang dihadapi bersama.

Pemimpin hendaknya selalu menjaga setiap ucapan dan tindakannya karena akan berpengaruh langsung terhadap kehidupan masyarakat. Jika hal ini dilakukan dengan komitmen dan konsisten, maka bonum commune (kebaikan bersama) yang menjadi cita-cita bersama dapat terwujud.

Novelis Brazil, Paulo Coelho turut mengungkapkan sebuah misteri dalam kepemimpinan. Ia menyatakan bahwa kriteria seseorang agar dapat menjadi pemimpin bagi masyarakat ialah, “mereka sudah harus selesai dengan diri sendiri”. Ia melanjutkan bahwa seseorang yang ingin menjadi pemimpin harus selesai dengan dirinya sendiri dalam hal materi, sosial dan afektif.

Orang yang telah selesai secara materi cenderung akan jauh dari praktik yang hanya ingin mencari keuntungan pribadi dan memperkaya kelompok atau golongan sendiri, mereka akan terhindar dari perilaku koruptif dan akan memusatkan konsentrasi pada upaya menyelamatkan rakyatnya.

Jika seorang telah selesai secara sosial, ia tidak akan anti terhadap kritik. Mereka menjalankan kepemimpinan dengan tulus dan mengabdi sepenuh hati bagi kepentingan banyak orang.

Pemimpin yang telah selesai secara sosial, tidak membutuhkan pujian, sanjungan, pengakuan, penghormatan atau ingin dikenal orang ketika menjalankan tugas sebagai pemimpin. Dengan demikian mereka akan lebih terbuka terhadap kritikan bahkan hinaan yang dilayangkan oleh kawan maupun lawan kepadanya.

Pemimpin yang telah terpenuhi kebutuhan sosialnya akan melahirkan pemimpin yang lebih rendah hati. Pemimpin yang telah selesai secara afektif pun akan menjalankan kepemimpinan sebagai sebuah tanggungjawab.

Oleh karena urusan mencintai dan dicintai serta segala urusan lain yang berkaitan dengan perasaan (sense) tidak lagi menjadi dorongan utama baginya. Ia melaksanakan tugasnya dengan penuh pengorbanan bahkan mengorbankan keluarga maupun orang yang dicintainya demi kepentingan umum (bersama).

Konsep kepemimpinan yang disodorkan oleh pria kelahiran Rio de Janeiro, 24 Agustus 1947 ini merupakan bentuk kepemimpinan yang ideal.  Setiap pemimpin memiliki cara dan karakter tersendiri dalam menjalankan kepemimpinannya.

Adolf Hitler, pemimpin besar dan politisi Jerman dikenal sebagai pemimpin yang totaliter dan otokratik. Ia menjalakan kekuasaaanya dengan kekerasan.

Dibawah partai Nazi yang dipimpinnya, pria kelahiran Austria ini menjadi tokoh utama kediktaroran di Jerman dari tahun 1933 sampai 1945. Nasionalisme yang dibangun di Jerman pada waktu zaman Hitler adalah nasionalisme yang chauvinis.

Dengan semboyan Deutschland uber Alles (Jerman di atas segalanya), Hitler membantai berbagai suku bangsa termasuk bangsa arya dan Yahudi. Adolf Hitler menunjukkan kekuatannya (power) sebagai penguasa dan bukan seorang pemimpin.

Ia menggunakan kekuasaanya untuk menindas, menakut-nakuti bahkan membunuh secara keji semua orang yang bertentangan paham atau kepentingan dengannya.

Pemimpin yang ditakuti atau dibenci

Tokoh – tokoh pemimpin besar dunia senantiasa menjadi teladan dan inspirasi bagi calon pemimpin maupun pemimpin masa kini. Pemikiran dan gagasan dalam melaksanakan kekuasaannya demi kesejahteraan bersama selalu menjadi sorotan. Ada tokoh politik yang dipuja, ada juga yang dikritik bahkan dibenci teladan kepemimpinannya.

Salah satu tokoh politik yang pemikirannya masih menjadi kontraversi hingga saat ini adalah Niccolo Machiavelli. Pria kelahiran Florence, 3 Mei 1469 ini merupakan seorang diplomat dan politikus Italia yang juga seorang filsuf renaisans.

Ia menjadi terkenal dengan karyanya The Principe yang menyoroti kepemimpinan Italia Utara kemudian teorinya dibukukan menjadi buku umum dalam berpolitik pada masa itu.

Dalam tulisannya Machiavelli memberikan sebuah pertanyaan reflektif yang berbunyi: “Lebih baik dicintai atau ditakuti?, atau sebaliknya”. Banyak orang tentu memilih untuk dicintai dan ditakuti ataupun keduanya.

Dicintai karena penampilannya, dicintai karena kecerdasannya, dicintai karena kebaikan hatinya, dicintai karena harta kekayaannya atau juga dicintai karena memiliki kedudukan sosial yang tinggi di masyarakat.

Sebaliknya orang ingin ditakuti, entah karena kuasa yang dimiliki, jabatan yang diembannya atau ditakuti karena kekuatan fisiknya serta lain sebagainya.  Pada hakekatnya secara umum orang ingin dicintai dan ditakuti ataupun salah satunya.

Orang lebih cenderung memilih untuk dicintai. Seseorang akan merasa dirinya dihargai dan dihormati jika dicintai oleh banyak orang. Ia merasa memiliki sesuatu yang “lebih” yang menyebabkan orang tertarik lalu mencintainya. Namun hal yang mungkin tidak dibayangkan oleh semua orang, Niccolo Machiavelli menegaskan bahwa jadilah pemimpin yang ditakuti dan bukan dicintai.

Pernyataan ini bukan tanpa alasan. Ia menyatakan bahwa pada umumnya orang beranggapan bahwa manusia itu tidak tahu berterima kasih, mudah berubah sikap (plin-plan), penipu dan pembohong, takut menghadapi bahaya dan rakus mencari keuntungan.

Selama Anda memperlakukan dengan baik, manusia-manusia itu menjadi pengikut Anda. Mereka akan mempertaruhkan jiwa mereka untuk Anda, mengorbankan harta mereka, hidup mereka, anak-anak mereka, tetapi kalau Anda berada dalam bahaya, mereka berbalik melawan anda. (Machiavelli, dalam The Principe II).

Konsep kepemimpinan seperti ini umumnya dijalankan oleh pemimpin yang berwatak penguasa. Ia akan mengabaikan urusan moral dalam berpolitik dengan sebuah ambisi untuk meraih kekuasaan demi kemuliaan namanya.

Ia mempraktikkan perilaku yang digambarkan oleh Machiavelli yakni tujuan menghalalkan segala cara. Untuk meraih kedudukan dalam sebuah tampuk kekuasaan, ia menggunakan cara yang amoral dan justru bertentangan dengan norma-norma sosial di masyarakat.

Berbeda dengan pandangan tokoh politik lain di dunia, teladan kepemimpinan yang diajarkan oleh Mohandas Karamchand Gandhi yakni perdamaian tanpa kekerasan. Pemimpin sprititual dan politikus India ini memiliki peran yang besar dalam Gerakan kemerdekaan India. Semboyannya ahimsa dan swadeshi sangat mengispirasi tokoh politik dan pemimpin dunia setelah masanya.

Perjuangan tanpa kekerasan serta gerakan untuk menggunakan kekuatan sendiri atau barang buatan sendiri merupakan propaganda yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi dalam upaya melawan kolonialisme Inggris waktu itu. Berkat keteguhan dan keyakinannya pada ajaran satyagraha, Ia berhasil menghantar India menjadi sebuah bangsa yang merdeka.

Gagasan Mahatma Gandhi tentang Nasionalisme, “My natiotalism is humanity”, yang artinya nasionalismeku adalah peri-kemanusiaan, turut menginspirasi para tokoh pendiri bangsa Indonesia. Presiden Ir. Soekarno selalu menitikberatkan paham nasionalisme dalam perjuangannya.

Ia menentang perjuangan kelas yang dianjurkan Karl Marx dan menekankan pada perjuangan nasional. Baginya nasionalisme Indonesia harus menjadi spirit perjuangan demi mewujudkan tatanan masyarakat yang adil dan makmur. Hendaknya Negara Indonesia ini didirikan bukan hanya untuk satu suku, bukan pula untuk satu agama maupun golongan tetapi Negara wajib hadir bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali.

Apapun bentuk negaranya, kepemimpinan selalu menjadi faktor penting dalam merumuskan, merencanakan dan menggerakan pembangunan guna perubahan sebuah bangsa. Kepemimpinan yang efisien membutuhkan pemimpin yang bijaksana dan partisipasi seluruh anggota masyarakat. Tanpa pengikut, pemimpin tiadalah artinya.

Begitupun sebaliknya, tanpa seorang pemimpin, rakyat bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya dan berjalan tanpa arah dan tujuan. Semoga kepemimpinan di Indonesia, baik di pusat mampu di daerah menghadirkan pemimpin yang melayani dengan tulus dan setia berjuang bersama rakyat membangun bangsa dan Negara ini.

Pemimpin yang berwatak penguasa hanyalah embrio bagi kehancuran bangsa ini dan semakin menjauhkan cita-cita dan tujuan bernegara.

Akhirnya, di manapun lokusnya, entah dalam keluarga, di sekolah, di masyarakat maupun dalam konteks sebuah Negara, seorang pemimpin hendaknya menanamkan dalam dirinya bahwa kehadiran pemimpin merupakan wujud perpanjangan tangan menyelamatkan semua umat manusia.

 

Oleh: Marianus K. Haukilo/Ketua DPD GMNI NTT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini