Kisah Pilu Pasutri Korban Sriwijaya, Rencana Ngunduh Mantu Berakhir Tragis

  • Bagikan
Keluarga Korban Pesawat Sriwijaya SJ 182

NTT-News.com, Pekanbaru – Putri Wahyuni Effendi dan suaminya, Ihsan Adhlan Hakim merupakan pasangan suami istri (Pasutri) yang ikut dalam pesawat Sriwijaya Air SJ-182 dari Jakarta tujuan Pontianak. Keduanya diketahui akan ke Pontianak untuk mengadakan syukuran pernikahan.

“Iya ke Pontianak mau kenduri mengunduh mantu,” kata ayahanda, Afrizal Effendi Senin (11/1/2021).

Rencana keluarga besar Putri yang ada di Pekanbaru juga akan berangkat ke Pontianak untuk berdiskusi acara syukuran pernikahan. Namun takdir berkata lain, anak bungsu dan mantunya ikut bersama dalam musibah kecelakaan tersebut.

“Dia itu mau ke rumah mertuanya. Kita berdiskusi disana apa yang bisa dibantu,” ujar pria berusia 66 tahun itu.

Baca Juga:  Ini Daftar Penumpang Pesawat Sriwijaya Air yang Hilang Kontak

Putri dan Ihsan sudah melangsungkan pernikahan 7 Maret 2020. Setelah menikah, Putri diboyong Ihsan ke Jakarta. Di Ibu Kota, Ihsan dikenal sebagai seorang pengusaha furniture. Keluarga masih berharap keduanya dapat ditemukan dengan kondisi selamat.

Afrizal warga Jalan Sembilang Kecamatan Rumbai, Pekanbaru tersebut, melakukan komunikasi terakhir dengan putrinya pada 9 Januari 2020 siang atau jelang penerbangan Sriwijaya Air SJY-182.”Terakhir komunikasi jam 2,” tandasnya.

Sebelumnya, pesawat Sriwijaya Air nomor register PK-CLC SJ 182 rute Jakarta-Pontianak hilang kontak pada hari Sabtu (9/1) pukul 14.40 WIB dan jatuh di perairan Kepulauan Seribu di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki.

Baca Juga:  Begini Kronologis Lengkap Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ 182

Pesawat jenis Boeing 737-500 itu hilang kontak di posisi 11 nautical mile di utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.

Pesawat take off dari Bandara Soekarno Hatta pada pukul 14.36 WIB. Jadwal tersebut mundur dari jadwal penerbangan sebelumnya 13.35 WIB. Penundaan keberangkatan karena faktor cuaca.

Berdasarkan data manifes, pesawat yang diproduksi pada tahun 1994 itu membawa 62 orang terdiri atas 50 penumpang dan 12 orang kru. Dari jumlah tersebut, 40 orang dewasa, tujuh anak-anak, dan tiga bayi. Sementara itu, 12 kru terdiri atas enam kru aktif dan enam kru ekstra.

Baca Juga:  Ditemukan Serpihan Daging di Lokasi yang Diduga Tempat Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air

Keberadaan pesawat itu tengah dalam investigasi dan pencarian oleh Badan SAR Nasional (Basarnas) dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Koordinasi langsung dilakukan dengan berbagai pihak, baik kepolisian, TNI, maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Sejumlah armada angkatan laut milik TNI dikerahkan, sekitar 10 kapal diterjunkan ke lokasi diduga jatuhnya pesawat di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Di antara kapal-kapal TNI AL yang dikerahkan, yakni KRI Teluk Gilimanuk-531 mengangkut para kru SAR dan juga awak media, KRI Rigel-933 milik Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL (Pushidrosal). (okz/nn)

  • Bagikan