Julie Laiskodat Serukan Berantas Stanting Dan Gizi Buruk dari Perbatasan Belu

0
210
Julie Laiskodat dan pihak-pihak terkait kab. Belu saat berdiskusi tentang stanting dan gizi buruk di rumah jabatan Bupati Belu

NTT- News.com, Atambua – Bunda PAUD Provinsi NTT, Julie Sutrisno Laiskodat menyerukan agar semua pihak bersinergi dan bersama-sama berkontribusi memberantas stunting dan gizi buruk di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai dari Kabupaten Belu.

Seruan Bunda Julie Laiskodat untuk bersinergi memberantas stunting dan gizi buruk dari Kabupaten Belu, wilayah yang berbatasan langsung dengan Timor Leste itu dilakukan dengan menyumbangkan tenaga, pikiran, dan fasilitas yang memadai.

Hal ini disampaikan Nyonya Julie saat diskusi bersama Ketua dan Wakil Ketua TP PKK/Dekranasda Kabupaten Belu, Dra. Freni Indriani Yanuarika dan Rinawati Br Perangin Angin, Pj. Sekda Belu, Frans Manafe, serta dinas-dinas terkait lingkup Pemkab Belu di Rumah Jabatan Bupati Belu, Kamis kemarin (27/05/2021).

Nyonya Julie yang juga Ketua TP PKK Provinsi NTT ini menuturkan bahwa NTT termasuk dalam provinsi dengan angka stunting tertinggi di Indonesia sehingga perlu adanya andil dalam memberantasnya.

“PKK harus ingat baik-baik, kita harus mempunyai sumbangsih tenaga, pikiran, dan fasilitas untuk berantas stunting dan gizi buruk yang mana notabene adalah kita juara 1 terburuk se-Indonesia. Kita kaya akan alam, kaya akan budaya, tapi kita miskin SDM dilihat dari nilai stunting dan gizi buruk yang sangat tinggi sekali sehingga kita harus mempunyai andil untuk berantas stunting dan gizi buruk tersebut. Tetapi untuk Kabupaten Belu cukup bagus karena mengalami penurunan angka prentasi stunting,” ungkap Julie Laiskodat.

Sebagai Ketua TP PKK Provinsi NTT jelas Julie, dirinya mempunyai program inovasi Desa Model di setiap Kabupaten/Kota yang dicetuskan pada tahun 2019 dan hingga tahun 2021 telah terdapat 44 Desa Model di seluruh NTT.

Program inovasi tersebut lanjut Julie untuk memberikan PMT asupan tambahan sarapan dan wajib untuk anak-anak PAUD dan anak SD di desa model tersebut.

“Jadi program ini bukan hanya gizi anak-anaknya bangkit tetapi kelompok PKK-nya juga sejahtera,” katanya.

Bunda Julie Laiskodat dalam kesempatan itu menyampaikan bahwa untuk memberantas stunting tidak cukup dengan program 1000 hari pertama kehidupan sehingga perlu adanya perhatian lebih dengan memberikan asupan makanan tambahan seperti sarapan pagi bersama yang diperhatikan gizinya semisal mengkonsumsi kelor karena memiliki nilai gizi yang tinggi.

“Pohon kelor terbaik itu ada dua tempat, satu di negara Spanyol, yang satu lagi adalah Nusa Tenggara Timur. Satu mangkok daun kelor itu gizinya setara 17 mangkok susu dan itu sudah terbukti. Tugas PKK tolong sosialisasi di seluruh Kecamatan, Desa-desa dan dianggarkan untuk bibitnya. Setiap rumah itu minimal ada lima pohon yang ditanam untuk ketahanan pangan mandiri mereka,” pungkasnya.

Laris Mataubana

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini