Jelang Hari Raya Nyepi, Umat Hindu Di TTU Adakan sejumlah Ritual Upacara

  • Bagikan
Umat Hindu di Kabupaten TTU saat Bersembahyang

NTT-News.com, Kefamenanu – Menjelang hari raya nyepi sejumlah umat Hindu di Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), mengadakan sejumlah ritual upacara di Bali seperti; Melasti, Mecaru dan pengerupukan.

Kegiatan tersebut berlangsung di pura Kefamenantha yang di pimpin langsung oleh pemangku I Nengah radin, S.Ag dan dihadiri sejumlah umat pemeluk agama Hindu.

Penyuluh Agama Hindu kab TTU, Sri Dhewy yang diwawancarai media ini, Sabtu malam(13/03/2021), mengatakan bahwa “Hari Raya Nyepi adalah hari pergantian tahun Saka (Isakawarsa) yang dirayakan setiap satu tahun sekali yang jatuh pada sehari sesudah tileming kesanga pada penanggal 1 sasih Kedasa. Nyepi memiliki filosofi dimana umat Hindu memohon kepada Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, untuk melakukan penyucian Buana Alit (manusia) dan Buana Agung (alam dan seluruh isinya)”.

Baca Juga:  Hari Raya Nyepi dan Harapan Walikota Kupang

Pada saat Nyepi tidak boleh melakukan aktifitas seperti pada umumnya, seperti keluar rumah (kecuali sakit dan perlu berobat), menyalakan lampu, bekerja dan sebagainya dengan tujuan tujuannya agar tercipta suasana sepi, sepi dari hiruk pikuknya kehidupan dan sepi dari semua nafsu atau keserakahan sifat manusia untuk menyucikan Bhuwana Agung (alam semesta) dan Bhuwana Alit (manusia). Jelas ibu yang akrab disapa Sri.

Sebelum hari raya Nyepi, dilaksanakan serangkaian upacara dan upakara yang bermaksud agar Penyucian Buana Alit dan Buana Agung berjalan dengan lancar. Tutur Sri.

Baca Juga:  Peringati Hari Sarasvati, Puluhan Umat Hindu-TTU, Gelar Persembayangan Syukur

Upacara atau upakara tersebut adalah Melasti atau bisa disebut Melis diadakan beberapa hari sebelum Nyepi. Pada saat ini segala sesuatu atau sarana persembahyangan di Pura-pura di bawa ke laut untuk disucikan. Pada saat Melasti, berbagai pretima atau benda yang disakralkan atau dikeramatkan akan disucikan dengan cara dibawa ke laut, sungai atau segara.

Melasti = melelasti = nganyudang malaning gumi ngamet Tirta Amerta. Menghanyutkan kekotoran alam menggunakan air kehidupan. Segara (laut) dianggap sebagai sumber Tirtha Amertha (Dewa Ruci, Pemuteran Mandaragiri). Kemudian, Mecaru/Tawur Mecaru atau bisa disebut Tawur, dilaksanakan pada hari Tilem Sasih Kesange (Bulan mati ke 9) yaitu sehari sebelum Nyepi. Merupakan upacara yang dilaksanakan di setiap rumah atau keluarga, desa, kecamatan dan sebagainya.

Baca Juga:  Umat Hindu di TTU Gelar Persembayangan Purnama Songsong Bulan Tilem

Dengan membuat sesajen yang ditujukan kepada para Bhuta Kala atau bisa disebut hal-hal negatif agar pada nantinya tidak mengganggu kehidupan manusia dan upacara Pengerupukan dilaksanakan sesaat setelah Mecaru, yaitu dengan menyebar (nasi) tawur, yaitu dengan membuat api atau obor untuk mengobori lingkungan rumah, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu sejenis bahan makanan, serta membunyikan atau memukul benda-benda apa saja seperti kentongan untuk menghasilkan suara ramai dan kegaduhan.

“Tahapan ini dilakukan sehingga diharapkan untuk mengusir para Bhuta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar,” Jelas Sri.

Laris Mataubana

  • Bagikan