Galau? Padang Terbuka Di Loura Menunggumu Sesudah PPKM

  • Bagikan
Bukit Lendongara

NTT-News.com, Loura – Kehidupan makhluk sosial saat ini sangat terpenjara dikarenakan wabah penyakit yang melanda dunia hampir dua tahun. Segala bentuk aktivitas pun dibatasi oleh pemerintah guna mencegah penularan virus tersebut. Rasa jenuh, gelisah dan bosan akan terus menghantui hari-hari setiap individu. Para pecinta traveling pun akan merasa kehilangan karena kebiasaan hidupnya seolah terpenjarakan oleh PPKM.

Beberapa hari ke depan, masa PPKM di kabupaten Sumba Barat Daya(SBD) akan segera berakhir. Salah satu destinasi wisata yang mampu memulihkan kembali kerja otak kiri dan kanan sedang menunggu untuk bersua bersamanya. Destinasi wisata itu sangat tepat menjadi tempat pertama untuk melepas segala rasa penat, galau, jenuh dan gelisah selama berdiam diri dalam rumah. Pasalnya, destinasi wisata tersebut akan menawarkan keindahan yang bervariasi.

Destinasi wisata alam itu bernama bukit Lendongara atau sering disebut bukit LDR oleh warga sekitar. Bukit LDR berada di wilayah Desa Karuni, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya dengan jarak tempuh dari bandara Tambolaka kurang lebih 15 KM. Serta hanya perlu waktu kurang dari 30 menit. Kondisi jalan menuju bukit itu tidak terlalu mulus, karena sebagian aspal berlubang. Namun, rasa lelah akan terbayar saat berada di puncak bukit.

Baca Juga:  Pantai Pero, Destinasi Wisata Yang Wajib Dikunjungi

Untunglah tidak ada medan yang terlalu berat, baik tanjakan ataupun kelokan ekstrim untuk menuju Bukit Lendongara. Sesampainya di Bukit Lendongara, bersiaplah untuk berdecak kagum. Bukit berselimut rumput menghijau itu bagaikan hamparan permadani. Konon, jika sudah memasuki musim kemarau warna permadani itu akan berubah kecoklatan oleh rumput yang mengering.

Tekstur Bukit Lendongara yang bergelombang menambah pesonanya. Bukit dan lembah berselang-seling bagaikan ombak abadi. Amati dengan seksama di daerah lembahnya. Meskipun cukup jauh, dengan mata telanjang masih bisa dikenali keberadaan sekumpulan kuda yang asyik merumput. Ingin rasanya merebahkan diri di hamparan rumput tersebut. Tekstur Bukit Lendongara yang bergelombang menambah pesonanya. Bukit dan lembah yang berwarna hijau dan kecoklatan membuat kita mengagumi keagungan-Nya.

Baca Juga:  Pantai Pero, Destinasi Wisata Yang Wajib Dikunjungi

Rasakan juga hembusan anginnya yang menerpa wajah, mengirimkan kesegaran udara khas daerah pegunungan. Begitu segar. Begitu bebas melihat hamparan padang Sabana yang luas di bawah langit biru. Dijamin bakal betah untuk berlama-lama menikmati keindahan Bukit Lendongara. Bukit yang berselimutkan hamparan rumput yang menghijau dan kecoklatan bagaikan permadani yang indah. Dipadu dengan semburat jingga di langit, benar-benar mengundang takjub bagi yang melihatnya.

Sebenarnya jam berapa pun anda bisa mengunjungi bukit Lendongara. Tidak perlu membeli tiket atau pembayaran retribusi lainnya, cukup langsung datang saja. Namun ada waktu-waktu tertentu yang dianggap paling bagus jika ingin mengunjungi bukit savana ini. Bukan hanya untuk bisa mendapatkan pemandangan yang indah tapi juga agar bisa menghasilkan jepretan foto yang sempurna.

Datanglah di waktu menjelang sore hari saat matahari mulai turun menuju arah barat. Anda akan mendapatkan pemandangan yang paripurna. Perpaduan warna langit di saat senja dan sinar matahari yang memantul di punggung bukit. Menghasilkan panorama menarik yang belum tentu bisa anda dapatkan kembali.

Baca Juga:  Pantai Pero, Destinasi Wisata Yang Wajib Dikunjungi

Bersiaplah mencari spot yang pas untuk mengambil gambar. Pilih pose yang anda inginkan. Sedang duduk atau berdiri. Menghadap kamera atau ala-ala foto Anda sendiri. Anda juga bisa kenakan kain tenun khas sumba(siapkan sendiri). Warna yang kontras dengan motif khas Sumba dari kain tenun yang digunakan, membaur amat baik  dengan pemandangan. Semakin menekankan penjelasan pada foto, bahwa anda sedang berada di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

Setelah “kenyang” berfoto ria, sisanya tinggal menikmati  suasana sore hari di bukit Lendongara. Menunggu matahari benar-benar kembali ke peraduan. Ditemani kopi hangat dan teman terdekat ataupun keluarga di samping mu. Sampai rasa gelisah, jenuh, galau dan bosan selama PPKM itu telah hilang dari imajinasimu. Berbicang ringanlah sebelum akhirnya  bersiap kembali ke rutinitas lama. (Rian)

  • Bagikan