Demi Keluarga, Monika Rela Menjadi Tukang Tambal Ban dengan Peralatan Seadanya

  • Bagikan
Monika Lado, Ibu Rumah Tangga Berperan Ganda demi keluarga

NTT-News.com, Tambolaka – Monika Nida Lado sosok wanita hebat dikalangan orang terpinggirkan yang sanggup memenuhi kebutuhan keluarganya dengan bekerja sebagai tukang tambal ban menggantikan suaminya sedang sakit. Kesehariannya ia bekerja sebagai petani dan juga menjadi tukang tambal ban.

Hidup ditengah keluarga yang serba keterbatasan, terketuk hati Monika untuk bekerja ekstra menghidupi keluarganya. Ia bekerja menggantikan suaminya yang sudah lama sakit. Suaminya dulu juga bekerja sebagai tukang tambal ban. Tempat tambal mereka belum dilapisi gedek atau tutupan, masih terbuka begitu saja.

Hal yang paling berkesan untuk diingat dari pekerjaan sebagai perempuan tukang tambal adalah pompa angin yang digunakan masih manual dan belum menggunakan mesin kompresor untuk mengisi angin. Inilah yang jauh berbeda dengan tukang tambal ban wanita atau lelaki di daerah lain yang melayani jasa tambal ban.

Baca Juga:  Martinus Bani Dibacok Pengendara Sepeda Motor di Bukambero

Wanita yang berdomisili tidak jauh dari hiruk pikuk ibu kota Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) ini layak disematkan gelar sebagai “Pahlawan Ban” bagi pengendara yang mengalami mogok karena kendala ban pecah atau bocor di daerahnya. Bagaimana tidak, meski dengan keterbatasan menggunakan Pompa manual dengan tenaganya sebagai wanita yang fisiknya tidak sehebat fisik lelaki, ia berusaha untuk menyambung perjalanan setiap pelanggannya.

Sosok pekerja keras, tidak kenal lelah, tak peduli wajah kusam bermodalkan Pompa Jadul ini berpegang pada prinsipnya, bahwa yang penting ada yang bisa dikerjakan dan menghasilkan uang halal. Meski lelah dan capai sebagai bayarannya, adalah dua hal yang tidak terlepas dari setiap pekerja, apalagi kerja ekstra. Tidak peduli mau dikata apa, selagi bekerja dari hati dan maksud dengan tujuan yang baik pasti ada hikmahnya.

Baca Juga:  Curah Hujan Rendah, Proses Tanam Padi di Bukambero Lambat

Dia bukan tak ingin melakukan pekerjaan itu dengan menggunakan alat-alat yang mendukung pekerjaannya sehingga tidak memakan waktu yang cukup lama dan lebih mengandalkan teknologi mesin, namun karena keterbatasan materi, Ia belum bisa membeli Kompresor menggantikan Pompa angin jadul itu.

Tergambar jelas dari sosok Ibu Monika, sosok yang menginspirasi bagi banyak orang dan khususnya wanita. Gengsi hanyalah penghambat baginya. Tak banyak orang khususnya wanita yang berprofesi sebagai tukang tambal ban seperti Ibu Monika.

Ia menjalani profesi sebagai tukang tambal sejak tahun 2004, sampai sekarang bukanlah waktu yang singkat jika dibayangkan dengan menggunakan Pompa Angin.

“Suami dalam keadaan sakit dan anak dua orang, saya harus bekerja untuk mereka,” ungkapnya seperti dirilis Pasolapos.com.

Baca Juga:  Pemda Promosi SBD Melalui Festival Tenun Ikat dan Parade Kuda

Berlokasi di Niri Paba, Desa Letekonda, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya, disitulah Ibu Monika tinggal bersama dua orang anak dan suaminya dan menjali profesi ganda sebagai petani, tukang tambal ban dan juga sebagai ibu Rumah Tangga. Dia benar-benar “Super Women”.

Wanita berhati mulia dan tulus untuk menghidupi keluarga khususnya anak-anak yang masih membutuhkan dampingan dan asuhan kedua orangtua. Tak ada sedikitpun niatnya untuk meningglkan suaminya, meski harus dirinyalah yang menggantikan peran suaminya sebagai tulang punggung keluarga.

Dalam perbincangan saat itu, Ibu Monika mengaku bahwa keluarganya kurang mendapatkan dari Pemerintah Desa. baik untuk pengembangan pekerjaannya yang masih menggunakan peralatan yang seadanya maupun berkaitan dengan sakit yang dialami suaminya.

Penulis : Tim/PP/rey

  • Bagikan